Banyak Guru yang mengajar merasa kewalahan, mulai dari kelasnya yang
gaduh, siswanya sulit diatur, ramai sendiri, hingga berbagai peristiwa
“kenakalan” yang berat diantisipasi. Kalau sudah demikian, tak jarang
jurus pamungkas guru pun dikeluarkan, marah-marah besar plus mengancam
dengan vonis hukuman berat
yang terkadang sangat rentan dengan beban moral dan mental si anak.
Semua itu dilakukan guru sekedar membuat anak menjadi jera tanpa melihat
aspek edukatifnya sama sekali.Alhasil, siswa menilai gurunya dengan predikat guru GALAK, dan guru pun menilai siswanya dengan mengklaim anak NAKAL. Mana yang benar ? Sampai kapan iklim saling klaim akan terjadi ?
Jika kita kaji, Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah gagasan. Di dalamnya bakat, tekad, ketersediaan dan kesadaran merupakan faktor yang sangat intens untuk diperjuangkan. Gagasan atau ide mustahil dapat berkembang jika kebebasan siswa dikekang. Anak disuruh duduk manis, tangan bersedekap dan mulut dikunci selama berjam-jam. Bukankah kita sendiri sebagai guru tidak tahan jika diperlakukan demikian ?
Dengan kata lain, menjadi guru dituntut pemikiran dan sikapnya yang kreatif, inovatif dan senantiasa pro-aktif memberikan nuansa baru. Sangat bijaksana andaikata diberikan kesempatan pada anak untuk memilih metode alternatif dalam belajar yang ia sukai. Mengkondisikan belajar selalu dalam suasana Fun tanpa ada rasa terpaksa. Menciptakan budaya kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Guru selalu memberikan ide-ide terbaru dan mungkin sesekali bisa mengadopsi ide siswa. Sehingga proses belajar akan terjadi secara dua arah, aktif dan siswa merasa puas jika idenya diterima dan dapat diaplikasikan saat pembelajaran berlangsung

